Asal-usul Goa Sentono, Saksi Bisu Duel Sengit Prajurit Sakti Majapahit Melawan Sunan Bonang : Okezone Travel

GOA Sentono di Blora, Jawa Tengah merupakan sebuah destinasi wisata alam yang memikat dengan sentuhan sejarahnya. Ia juga merupakan sebuah cagar budaya yang sayang untuk dilewatkan wisatawan manakala berkunjung ke Blora.

Terletak di lembah Bengawan Solo, tepatnya di Desa Mendenrejo, Kecamatan Kradenan, keunikan dan kecantikan Goa Sentono menciptakan daya tarik yang membuat pengunjung penasaran untuk menggali lebih dalam tentang sejarahnya.

Hingga kini, cerita goa ini masih diperjuangkan oleh masyarakat sekitar, menjadikannya sebagai bagian tak terpisahkan dari warisan budaya yang patut dikunjungi.

Mengutip laman Pemkab Blora, di masa lampau, Dusun Sentono menjadi tempat berdirinya sebuah padepokan yang dipimpin oleh Ki Blacak Ngilo. Awalnya, padepokan ini begitu terkenal sehingga menarik perhatian banyak orang untuk datang ke Sentono guna menyantrik dan belajar dari Blacak Ngilo.

Dengan kebijaksanaan dan kearifannya, Blacak Ngilo mengajarkan berbagai ilmu kepada para pengikutnya, termasuk cara bercocok tanam, budi pekerti, spiritual dan olah kanuragan kepada masyarakat lokal.

Goa Sentono (Foto: dok. Fita Risthy)

Sentono, yang berlokasi di tepi aliran Sungai Bengawan Solo, menjadi daerah yang strategis untuk pertanian.

Tak heran jika Sentono dan sekitarnya mengalami kemajuan yang luar biasa. Bahkan, Blacak Ngilo dihormati oleh pengikutnya seolah-olah ia adalah seorang raja.

Namun, setelah waktu berlalu, sikap Ki Blacak Ngilo mengalami perubahan yang kurang baik dengan bertindak sewenang-wenang. Warga desa dipaksa untuk menyumbangkan lebih dari separuh hasil panen mereka.

Selain itu, Ki Blacak Ngilo juga memerintahkan agar setiap keluarga yang memiliki anak perempuan harus menyerahkannya sebagai selirnya.

Sunan Bonang

Sunan Bonang (Foto: Pinterest/Postergaul)

Ketegangan merayap di kalangan masyarakat, terutama setiap malam bulan purnama, mereka diwajibkan menyediakan darah manusia sebagai tumbal untuk memperkuat kesaktiannya.

Baca Juga  Media Vietnam Ledek Timnas Indonesia yang Terancam Tanpa Ernando Ari di Piala Asia 2023: Kehilangan Bintang Penting Sebelum Perang Besar Lawan Vietnam? : Okezone Bola

Tindakan yang tidak wajar itu terdengar oleh Raden Maulana Makdum Ibrahim alias Sunan Bonang.

Oleh karenanya, Sunan Bonang mengirim salah satu utusannya untuk menghadap Blacak Ngilo dengan pesan agar Blacak Ngilo menghentikan perilaku sewenang-wenang terhadap rakyatnya, meninggalkan penyembahan berhala, dan mengikuti ajaran Islam dengan tulus dan benar.

Goa Sentono, Blora

Area sekitar Goa Sentono (Foto: dok. Falkhan Barizi)

Namun, setelah mendengar peringatan tersebut, Blacak Ngilo marah dan tanpa ampun, ia memenggal leher utusan Sunan Bonang hingga putus.

Tempat pemenggalan itu kemudian diabadikan sebagai sebuah desa yang dikenal sebagai Pangulu.

Nama Pangulu berasal dari kata ‘Penggal Gulu’ merujuk pada penggalan leher utusan Sunan Bonang. Desa ini terletak di wilayah Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Merasa dianggap remeh, Blacak Ngilo tidak terima. Ia mengirim surat tantangan kepada Sunan Bonang untuk menghadapi pertarungan adu kekuatan.


Follow Berita Okezone di Google News


Sunan Bonang menyetujuinya, tetapi dengan beberapa syarat. Jika Sunan Bonang kalah, beliau bersedia menjadi pengikut Blacak Ngilo, dan sebaliknya, jika Blacak Ngilo kalah, ia harus meninggalkan semua perilaku buruknya dan memeluk Islam. Kedua belah pihak menyetujui persyaratan tersebut.

Pertarungan sengit pun dimulai. Kedua tokoh ini, sama-sama memiliki kekuatan yang luar biasa, dan pada hari pertama, hari kedua, bahkan hingga hari keenam, belum terlihat siapa yang kalah atau menang.

Namun, pada hari ketujuh, Blacak Ngilo mulai merasa kelelahan. Meskipun begitu, karena kesombongannya, ia enggan mengakui kehebatan Sunan Bonang.

Di saat seperti itu, Blacak Ngilo menggunakan akal liciknya untuk melarikan diri dari medan pertarungan. Dengan sisa-sisa kesaktiannya, Blacak Ngilo memasuki perut bumi untuk menghindar.

Baca Juga  BRI Finance Beri Apresiasi Acara Durian Vaganza MNC Finance dan MNC Leasing : Okezone Economy

Goa Sentono, Blora

Goa Sentono (Foto: dok. Jaya Hertanto)

Sunan Bonang tidak mau kalah. Ia mengejar Blacak Ngilo hingga ke dalam perut bumi, dan akhirnya terjadi kejar-kejaran di dalam tanah.

Setiap kali Ki Sentono alias Blacak Ngilo muncul di permukaan tanah, Sunan Bonang selalu berada di belakangnya. Bahkan, saat Blacak Ngilo melarikan diri ke daerah Tuban (Jawa Timur), Sunan Bonang juga muncul di sana.

Setelah merasa kelelahan, Blacak Ngilo meminta Sunan Bonang untuk memberikan waktu istirahat. Permintaan tersebut dikabulkan oleh Sunan Bonang.

Goa Sentono, Blora

Panorama alam sekitar Goa Sentono (Foto: dok. Falkhan Barizi)

Tanpa menyia-nyiakan waktu, Blacak Ngilo mencari tempat untuk beristirahat, yang dalam bahasa Jawa disebut semende atau senderan. Tempat istirahat Blacak Ngilo inilah yang kemudian memberi nama pada Desa Menden, berasal dari kata semenden/senden.

Akhirnya, Blacak Ngilo mengakui kekalahannya dan bersedia memeluk agama Islam serta menjadi pengikut Sunan Bonang untuk menyebarkan ajaran Islam di wilayah Menden. Lubang-lubang dalam tanah bekas kejar-kejaran antara Sunan Bonang dan Blacak Ngilo meninggalkan bekas berupa goa.

Goa ini kemudian diberi nama Goa Sentono. Wilayah sekitar goa disebut Dusun Sentono, yang secara administratif masuk dalam wilayah Desa Mendenrejo, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *